FILOSOFI DAN KEBEBASAN DALAM ETIKA PROFESI
Disusun oleh : Dyna Fitria
0806453150
A. FILOSOFI ETIKA PROFESI
Bidang etika terapan yang dipelajari secara lebih khusus adalah etika profesi. Etika profesi merupakan bidang yang diperlukan bagi dunia kerja manusia, khususnya yang berkaitan dengan kemajuan tekhnologi. Dalam bidang ilmu pengetahuan dan tekhnologi dan arus globalisasi yang sedemikian pesat ini, dibutuhkan sumber daya manusia yang memiliki kecerdasan, keterampilan, serta kepandaian dalam mengolah dan menguasai informasi yang dihadapinya ketika bekerja.
Profesi dalam bahasa yunani, professues, semula diartikan sebagai suatu kegiatan manusia atau pekerjaan manusia yang dikaitkan dengan sumpah suci. Atas dasar sumpah itulah, manusia harus bekerja dengan baik. Selain itu terdapat pengertian profesi sebagai komunitas moral – ”moral community” – yaitu adanya cita-cita dan nilai bersama yang dimiliki seseorang ketika ia berada dan bersama-sama dengan masyarakat dalam dunia kerja.
Dalam hubungan kerja sama antara profesional – klien terdapat juga beberapa aspek moral ataupun beberapa pertimbangan-pertimbangan etis. Aspek moral maupun pertimbangan etis menjadi landasan bagi kedua belah pihak untuk menjaga kepercayaan. Segala bentuk pelayanan haruslah memiliki aspek pro bono publico (segala bentuk pelayanan untuk kepentingan umum). Aspek pro bono dapat memunculkan profesional yang memiliki profesi luhur, yaitu tidak semata-mata mementingkan keuntungan melainkan berdasarkan pengabdian kepada masyarakat.
B. KEBEBASAN DALAM ETIKA PROFESI
Pertanyaan yang kemudian muncul adalah sejauh mana kebebasan dalam penerapan etika profesi tersebut? Dan apa saja syarat yang harus dipenuhi seorang profesional untuk dapat mewujudkan kebebasan yang bertanggung jawab dalam menjankan profesinya?
Sebelum masuk lebih jauh, akan dibahas terlebih dahulu mengenai definisi kebebasan, apakah yang sebenarnya dimaksud degan kebebasan itu? Kebebasan adalah salah satu unsur yang sangat hakiki dan manusiawi yang dimiliki oleh manusia. Pada dasarnya setiap manusia memilki kebebasan, dan kebebasan itu melekat pada manusia tanpa mengenal perbedaan suku, ras, agama, derajat, maupun profesi yang dijalaninya. Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kebebasan berasal dari kata bebas, yang artinya tidak ada pembatasan. Namun, untuk mengerti kata bebas, maka kata tersebut hendaknya dirangkaikan pada kata lain agar dapat lebih memperjelas maknanya.
Lebih jauh lagi, apabila kata bebas itu dirangkaikan dengan Etika Profesi maka kaitannya adalah dengan individu dan profesi yang dijalaninya. Masing-masing individu memiliki kebebasan untuk menentukan diri sendiri dan tidak dibatasi. Namun, dengan kebebasan itu diharapkan individu tersebut dapat mampu untuk ”tampil” mengoptimalkan kemampuannya dalam bekerja.
Walaupun setiap individu berhak atas kebebasannya, namun perlu dipertimbangkan juga dengan jernih sebagaimana disadari bahwa manusia adalah makhluk sosial. Lantas apa korelasinya? Sebagai makhluk sosial maka seseorang akan selalu berada dan bersama dengan orang lain, dengan sesama dan ia menjadi bagian atau anggota suatu masyarakat ataupun kelompok tertentu. Dengan demikian kebebasan yang dimilikinya bukanlah suatu kesewenangan, melainkan kebebasan yang secara hakiki terbatas oleh kenyataan bagwa ia adalah bagian dari anggota masyarakat. Ia harus menyadari bahwa ia hidup bersama orang lain yang memiliki kebebasan juga dan ia berada pada suatu lingkup yang sebenarnya dibatasi atau dideterminasi oleh keadaan, peristiwa, situasi, ruang, aturan (rule) dan sebagainya.
Dengan pembatasan-pembatasan yang ada itu, maka kebebasan yang diberikan oleh anggota masyarakat kepada seseorang diisi dengan sikap dan tindakan yang tepat sehingga tidak merugikan orang lain. Menentukan sikap dan keinginan yang tepat juga merupakan bagian dari kebebasan yang bertanggung jawab.Dengan demikian kebebasan yang dimiliki manusia haruslah diisi dengan penuh makna tanpa kesewenang-wenangan.
Setelah mengetahui batasan-batasan tersebut, seorang profesional diharapkan dapat menjadikan etika profesi sebagai ”kompas” moral, petunjuk jalan bagi si professional yang berdasarkan nilai-nilai etis: hati nurani, kebebasan – tanggung jawab, kejujuran, kepercayaan, serta keseimbangan hak dan kewajiban dalam bentuk pelayanan terhadap klien. Selanjutnya juga diharapkan dalam pelaksanaan kebebasan etika profesi juga dapat menjamin kepercayaan masyarakat tehadap pelayanan yang diberikan.
C. DAFTAR PUSTAKA
Program Pendidikan Perguruan Tinggi UI. 2008. Modul MPK Terintegrasi, Depok: PDPT Universitas Indonesia.
DuniaDyfi
Tempatku merefleksikan hidup untuk membuat hidup lebih hidup
Minggu, 28 Juni 2009
Senin, 01 Juni 2009
Semangat Menulis
Tak terasa satu tahun sudah saya berada di kampus perjuangan ini. Banyak hikmah yang dapat di ambil tentunya dari tiap kejadian yang saya alami setiap harinya,membuat saya lebih memahami pesan yang Allah sampaikan melalui semua kejadian baik senang maupun susah, dan sekarang semuanya adalah nikmat ketika semua hal menjadi sebuah pembelajaran. Semester 2 yang cukup padat membuat saya sama sekali tidak dapat meluangkan waktu untuk blog ini,Sekarang saya sedang mencoba meluangkan waktu untuk menulis baik itu mengenai hikmah dari setiap hal yang saya alami maupun materi-materi kuliah yang sudah saya dapatkan. Semoga dapat bermanfaat.
karena ilmu itu ada, ya untuk berbagi!
Dyna Fitria
Biologi UI 2008
Selasa, 19 Mei 2009
Love Letter
Bismillahirrhmaanirrahiim…
Surat ini kutujukan untuk diriku sendiri serta saudara-
saudariku yang Insya Allah tetap mencintai Allah dan
rasul-Nya di atas segalanya, karena hanya
cinta itu yang dapat mengalahkan segalanya, cinta hakiki yang
membuat manusia melihat segalanya dari sudut pandang yang
berbeda, lebih bermakna
dan indah.
Surat ini kutujukan untuk hatiku dan hati saudara/i-ku yang
kerap kali terisi oleh cinta selain-Nya, yg mudah sekali
terlena oleh indahnya dunia, yang terkadang melakukan
segalanya bukan karena-Nya, lalu di ruang hatinya yang kelam
merasa senang jika dilihat dan dipuji orang, entah di mana
keikhlasan. Maka saat ini kurasakan kekecewaan dan kelelahan
karena yang kulakukan tidak sepenuhnya berlandaskan
keikhlasan, padahal Allah tidak pernah menanyakan hasil. Dia
akan melihat kesungguhan dalam berproses.
Surat ini kutujukan pula untuk jiwaku serta jiwa saudara/i-ku
yang mulai lelah menapaki jalan-Nya ketika seringkali
mengeluh, merasa terbebani bahkan terpaksa untuk menjalankan
tugas yang sangat mulia. Padahal tiada kesakitan, kelelahan,
serta kepayahan yang dirasakan oleh seorang hamba melainkan
Allah akan mengampuni dosa-dosanya.
Surat ini kutujukan untuk ruh-ku dan ruh saudara/i-ku yang
mulai terkikis oleh dunia yg menipu, serta membiarkan
fitrahnya tertutup oleh maksiat yang
dinikmati, lalu di manakah kejujuran diletakkan?? Dan kini
terabaikan sudah secara nurani yang bersih, saat ibadah
hanyalah rutinitas belaka, saat fisik dan pikiran disibukkan
oleh dunia, saat wajah menampakkan kebahagiaan yang semu, coba
lihat hatimu menangis, tertawa dan merana??
Surat ini kutujukan untuk diriku dan diri saudara/i-ku yang
sombong, yang terkadang bangga pada dirinya sendiri. Sungguh
tiada satupun yang membuat kita lebih dihadapan-Nya selain
ketakwaan. Padahal kita menyadari bahwa tiap-tiap jiwa akan
merasakan mati, namun kita masih bergulat terus dengan
kefanaan.
Surat ini kutujukan untuk hatiku dan hati saudara/i-ku yang
mulai mati, saat tiada getar ketika asma Allah disebut, saat
tiada sesal ketika kebaikan terlewatkan begitu saja, dan saat
tiada rasa dosa ketika menzhalimi diri dan saudaranya.
Akhirnya surat ini kutujukan untuk jiwa yang masih memiliki
cahaya meskipun sedikit, jangan biarkan cahaya itu padam. Maka
terus kumpulkan cahaya itu
hingga ia dapat menerangi wajah-wajah di sekeliling,
memberikan keindahan Islam yang sesungguhnya hanya dengan
kekuatan dari-Nya.
“Adakah hari-hari yang mungkin aku bisa lari dari maut, hari
yang ditentukan, dan yang tidak ditentukan. Hari yang tidak
ditetapkan, akupun
tak gentar dan hari yang ditentukan-pun aku tak kuasa
menghindarinya. Ku katakan padanya, ia telah terbang bertabur
bintang. Dari para syuhada yang
gugur yang tak kau pedulikan. Maka sesungguhnya engkau walau
meminta penundaan meski sehari atas ajal yang ditetapkan
padamu, tentu ia takkan
mau karena itu bersabarlah saat menghadapi kematian karena
mengharapkan keabadian adalah sesuatu yang mustahil.”
(Disenandungkan oleh Ali bin Abi Thalib kala mengahadapi
musuh-musuhnya).
Surat ini kutujukan untuk diriku sendiri serta saudara-
saudariku yang Insya Allah tetap mencintai Allah dan
rasul-Nya di atas segalanya, karena hanya
cinta itu yang dapat mengalahkan segalanya, cinta hakiki yang
membuat manusia melihat segalanya dari sudut pandang yang
berbeda, lebih bermakna
dan indah.
Surat ini kutujukan untuk hatiku dan hati saudara/i-ku yang
kerap kali terisi oleh cinta selain-Nya, yg mudah sekali
terlena oleh indahnya dunia, yang terkadang melakukan
segalanya bukan karena-Nya, lalu di ruang hatinya yang kelam
merasa senang jika dilihat dan dipuji orang, entah di mana
keikhlasan. Maka saat ini kurasakan kekecewaan dan kelelahan
karena yang kulakukan tidak sepenuhnya berlandaskan
keikhlasan, padahal Allah tidak pernah menanyakan hasil. Dia
akan melihat kesungguhan dalam berproses.
Surat ini kutujukan pula untuk jiwaku serta jiwa saudara/i-ku
yang mulai lelah menapaki jalan-Nya ketika seringkali
mengeluh, merasa terbebani bahkan terpaksa untuk menjalankan
tugas yang sangat mulia. Padahal tiada kesakitan, kelelahan,
serta kepayahan yang dirasakan oleh seorang hamba melainkan
Allah akan mengampuni dosa-dosanya.
Surat ini kutujukan untuk ruh-ku dan ruh saudara/i-ku yang
mulai terkikis oleh dunia yg menipu, serta membiarkan
fitrahnya tertutup oleh maksiat yang
dinikmati, lalu di manakah kejujuran diletakkan?? Dan kini
terabaikan sudah secara nurani yang bersih, saat ibadah
hanyalah rutinitas belaka, saat fisik dan pikiran disibukkan
oleh dunia, saat wajah menampakkan kebahagiaan yang semu, coba
lihat hatimu menangis, tertawa dan merana??
Surat ini kutujukan untuk diriku dan diri saudara/i-ku yang
sombong, yang terkadang bangga pada dirinya sendiri. Sungguh
tiada satupun yang membuat kita lebih dihadapan-Nya selain
ketakwaan. Padahal kita menyadari bahwa tiap-tiap jiwa akan
merasakan mati, namun kita masih bergulat terus dengan
kefanaan.
Surat ini kutujukan untuk hatiku dan hati saudara/i-ku yang
mulai mati, saat tiada getar ketika asma Allah disebut, saat
tiada sesal ketika kebaikan terlewatkan begitu saja, dan saat
tiada rasa dosa ketika menzhalimi diri dan saudaranya.
Akhirnya surat ini kutujukan untuk jiwa yang masih memiliki
cahaya meskipun sedikit, jangan biarkan cahaya itu padam. Maka
terus kumpulkan cahaya itu
hingga ia dapat menerangi wajah-wajah di sekeliling,
memberikan keindahan Islam yang sesungguhnya hanya dengan
kekuatan dari-Nya.
“Adakah hari-hari yang mungkin aku bisa lari dari maut, hari
yang ditentukan, dan yang tidak ditentukan. Hari yang tidak
ditetapkan, akupun
tak gentar dan hari yang ditentukan-pun aku tak kuasa
menghindarinya. Ku katakan padanya, ia telah terbang bertabur
bintang. Dari para syuhada yang
gugur yang tak kau pedulikan. Maka sesungguhnya engkau walau
meminta penundaan meski sehari atas ajal yang ditetapkan
padamu, tentu ia takkan
mau karena itu bersabarlah saat menghadapi kematian karena
mengharapkan keabadian adalah sesuatu yang mustahil.”
(Disenandungkan oleh Ali bin Abi Thalib kala mengahadapi
musuh-musuhnya).
Senin, 23 Februari 2009
Catatan perjalanan
Mulanya kuanggap mudah perjalanan ini ,walaupun belum kupahami benar akan apa yang kuhadapi ,aku memutuskan untuk tetap melangkah. namun agaknya kekurangpahamanku membuatku maju mundur untuk terus berjuang, kadang masih ada rasa ragu, rasa ragu akan kemampuanku untuk bisa bertahan,karena ku tahu,semakin jauh akan semakin berat.. Banyak rekan seperjuanganku yang akhirnya mengurungkan niat, atau mereka segera letih bahkan memilih jalan lain yang menjanjikan kemudahan. Namun aku berusaha untuk tidak terusik,sementara jalan di hadapanku semakin menyempit dan menanjak dan waktu pun terus berlalu.. aku dan yang lainnya terus melangkah, terseret-seret.. sampai ku pahami tabiat jalan yang kulewati ini, penuh tantangan namun mengasyikkan.
Sudah yang keberapa lutut ini bergetar. Nafas mulai tersengal, entah sudah berapa kali aku tersungkur, orang bilang aku terlalu ringkih untuk menuntaskan seluruh perjalanan panjang.,tapi aku tak mau peduli,masih pekat kepercayaanku. Ia yang akan kujumpai disana akan memberikan kekuatan gaibNya kepadaku.
Kini di hadapanku berdiri tebing angkuh yang terjal. Tanahnya coklat basah,ada jalan setapak, dipinggirnya ada semak-semak liar yang menatapku dengan masam. sementara dari sudut mataku yang lain kutangkap adanya jalan yang lebih mudah. tak ada jalan licin yang menantiku tergelincir, tak ada semak yang mengejek, jalannya pun lapang dan tatapanku kembali ke arah tebing tadi, samar dapat kulihat jejak-jejak kaki orang sebelumku, namun kadang tak terlihat jejak sama sekali,kemanakah mereka?
Ampuni aku ya Rabbi ,betapa seringnya hamba ini tertegun ragu untuk melanjutkan perjalanan ini,semuanya dikarenakan kelemahan hati ini yang masih mengharap mencicipi kenikmatan duniawi.Kinipun hati yang ragu ini masih di guncang gundah ,akankah Kau terima buah karya tangan yang lemah ini ? akankah kau hargai apabila terkadang hatiku masih juga mengharap wajauh selainMu?
Betapa semakin berat prasangkaanku jika kuingat engkau maha pencemburu.Pernah kudengar jalan lain yang jauh lebih sulit dari yang kutempuh. Orang-orang yang melewatinya adalah orang-orang perkasa,dengan nyali melebihi singa. Ada terpikir olehku untu melewati jalan itu,namun betapa diri ini belum layak untuk di sejajarkan dengan mereka.
Dan babak baru perjalanan ku pun di mulai, setiap langkah harus diperhitungkan dengan cermat, salah pijak hampir pasti akan tergelincir. Terpaksa kuakui kalau nyali ini menciut, Namun kututupi sedapatnya, aku pun terus melangkah dengan segenap kemampuan.
Sudah yang keberapa lutut ini bergetar. Nafas mulai tersengal, entah sudah berapa kali aku tersungkur, orang bilang aku terlalu ringkih untuk menuntaskan seluruh perjalanan panjang.,tapi aku tak mau peduli,masih pekat kepercayaanku. Ia yang akan kujumpai disana akan memberikan kekuatan gaibNya kepadaku.
Kini di hadapanku berdiri tebing angkuh yang terjal. Tanahnya coklat basah,ada jalan setapak, dipinggirnya ada semak-semak liar yang menatapku dengan masam. sementara dari sudut mataku yang lain kutangkap adanya jalan yang lebih mudah. tak ada jalan licin yang menantiku tergelincir, tak ada semak yang mengejek, jalannya pun lapang dan tatapanku kembali ke arah tebing tadi, samar dapat kulihat jejak-jejak kaki orang sebelumku, namun kadang tak terlihat jejak sama sekali,kemanakah mereka?
Ampuni aku ya Rabbi ,betapa seringnya hamba ini tertegun ragu untuk melanjutkan perjalanan ini,semuanya dikarenakan kelemahan hati ini yang masih mengharap mencicipi kenikmatan duniawi.Kinipun hati yang ragu ini masih di guncang gundah ,akankah Kau terima buah karya tangan yang lemah ini ? akankah kau hargai apabila terkadang hatiku masih juga mengharap wajauh selainMu?
Betapa semakin berat prasangkaanku jika kuingat engkau maha pencemburu.Pernah kudengar jalan lain yang jauh lebih sulit dari yang kutempuh. Orang-orang yang melewatinya adalah orang-orang perkasa,dengan nyali melebihi singa. Ada terpikir olehku untu melewati jalan itu,namun betapa diri ini belum layak untuk di sejajarkan dengan mereka.
Dan babak baru perjalanan ku pun di mulai, setiap langkah harus diperhitungkan dengan cermat, salah pijak hampir pasti akan tergelincir. Terpaksa kuakui kalau nyali ini menciut, Namun kututupi sedapatnya, aku pun terus melangkah dengan segenap kemampuan.
Selasa, 03 Februari 2009
Hari pertama kuliah
Semester ini aku mendapat mata kuliah struktur tumbuhan,awalnya kufikir itu akan sangat membosankan karena banyak nama2 latin yang harus dihafal,jaringan-jaringan tumbuhan yang kompleks,dan proses metabolisme yang rumit. tapi maindsetku berubah seketika setelah menyaksikan sebuah film yang diperlihatkan oleh dosen struktum,dari situ aku belajar banyak untuk mengenal tumbuhan lebih jauh dan aku mengaguminya.dari mulai pertumbuhan biji,bagaimana akar mulai tumbuh dan bergerak(seolah-olah ia memiliki insting yang sangat hebat ke arah mana ia harus merambat,perlahan-lahan,serabut demi serabut,hingga menjadi akar yang kokoh!),berbagai jenis daun(kenapa ada yang bentuknya melebar?kenapa ada yang bentuknya meruncing?dulu aku jarang memperhatikan hal2 seperti itu.tapi ternyata daun juga punya keunikan tersendiri,pohon2 yang tumbuh dihutan tropis memiliki daun yang ujungnya runcing, ternyata kalau kita perhatikan pada saat hujan turun,daun2 tersebut berfungsi sebagai saluran air,sehingga ujungnya berbentuk runcing,sama halnya ketika kita ingin memasukan air kedalam corong:-)di film itu juga diperlihatkan bagaiman cara pengangkutan air dari dasar akar yang sangat dalam hingga ujung batang,bahkan untuk pohon yang sangat tinggi,padahal jika menggunakan mesin penyiram air akan menimbulkan suara yang sangat bising untuk memompa air setinggi itu.tapi tumbuhan?it's always quiet!belum pernah aku menemukan tumbuhan yang berisik;)dosenku juga mengatakan bahwa buah durian yang kita makan itu bukan daging buah, melainkan salut bijinya dan dengan adanya rekayasa genetik maka bisa diteliti bagaimana menanam durian yang salut bijinya lebih tebal(hmm... yummy:)
Masih ada begitu banyak rahasia alam yang belum kuketahui,semakin aku mempelajarinya aku semakin merasakan KeMaha Besaran Allah,aku bersyukur bisa ada disini,Semester 2 harus lebih baik !
"Sesungguhnya dengan kehendak Allah semua ini terwujud,tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah"
Masih ada begitu banyak rahasia alam yang belum kuketahui,semakin aku mempelajarinya aku semakin merasakan KeMaha Besaran Allah,aku bersyukur bisa ada disini,Semester 2 harus lebih baik !
"Sesungguhnya dengan kehendak Allah semua ini terwujud,tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah"
Senin, 19 Januari 2009
Menghilangkan kebiasaan menunda
"Procrastination... mankind's worst habbit ever found"
Menunda.. Betapa banyak manusia yang mendapatkan kesenangandari aktivitas yang satu ini, sambil membiarkan diri merekatetap terikat pada kewajiban pada masa yang akan datang, denganintensitas yang semakin berat! Mengapa makin berat? karena ketika sebuah tugas ditunda, maka secara mental pikiran menganggapnyasebagai hal yang seharusnya telah dilakukan di masa lalu, sehinggatidak ada motivasi yang muncul saat tugas tersebut kembali tiba waktunya untuk dikerjakan.Buruknya lagi, kebiasaan menunda juga dapat berkembang ke titik ekstrimyaitu menunda kesuksesan, dengan dalih bahwa kesuksesan di masa depantidak akan pergi kemana-mana walau tidak diupayakan sekarang juga!Jadi apa yang perlu dilakukan untuk menghindari kebiasaan menunda???
Silakan simak beberapa langkah di bawah ini:
1. Tentukan prioritas.
Segala sesuatu memiliki prioritasnya masing-masing,ada saat dimana pekerjaan kuliah lebih penting dari waktu untuk diluangkan bersama keluarga, namun ada kalanya berlaku sebaliknya.Ketika kita sakit, prioritas tentu mengusahakan kesembuhan terlebih dahulusebelum menyelesaikan tugas/pekerjaan. Bagaimana cara agar prioritas dapatdibuat secara feasible? Jawabannya mudah, buatlah daftar skala prioritas dan juga hal-hal pendukung yang diperlukan untuk menyelesaikan sebuah tugas.Tambahkan juga rentang waktu yang masuk akal dan tidak membebani.
2. Upayakan sebuah kondisi mental, fisik dan lingkungan yang mendukung penyelesaian sebuah tugas.
Misalkan, usahakan kebersihan meja kerja,siapkan peralatan dan perlengkapan yang diperlukan secara lengkap untukmenyelesaikan sebuah tugas, persiapkan kebugaran fisik, cuci muka bila terasa penat atau mandi dengan air dingin, dampak langsung dari kondisi fisik yang bugar akan sangat mempengaruhi motivasi, sama halnya dengan tersedianya berbagai peralatan yang dibutuhkan untuk menyelesaikan tugas,bayangkan seorang pelukis berdiri di depan kanvas putih dan stand kayu, tersedia 12 jenis kuas lukis berkualitas berbagai ukuran, 3 set cat minyakdengan total 36 warna, plus secangkir kopi panas di samping meja dengan alunan lagu favorit sebagai sumber inspirasi. Rasanya sukar untuk pelukis tersebut untuk tidak mulai berkarya, dengan begitu lengkapnya persiapanyang ia perlukan untuk mengerjakan sebuah karya.
3. Lakukan 1 hal yang termudah!
Banyak pakar mengatakan bahwa seseorangharus melakukan yang terberat lebih dulu, namun kami menyarankan untukmelakukan 1 hal yang termudah, karena pikiran manusia dapat mengenali sebuah pencapaian atau tuntasnya sebuah hal walaupun hal itu sangat sepele, dan dari 1 pencapaian kecil, pikiran manusia akan termotivasiuntuk melakukan 1 hal selanjutnya dengan porsi lebih berat, dan seterusnya.(human's mind recognizes achievement, even the small one)
4. just let it flow
Kerjakan terus dengan ritme kita. Masalah yang terjadi biasanya adalah kita tidak bisa berhenti! namun ini adalah sebuah indikator yang menguntungkan bukan?
5. Setelah sebuah tugas terselesaikan, silakan beralih ke tugas berikutnya,bahkan mulailah tugas yang harusnya diselesaikan minggu depan! ^^
Menunda.. Betapa banyak manusia yang mendapatkan kesenangandari aktivitas yang satu ini, sambil membiarkan diri merekatetap terikat pada kewajiban pada masa yang akan datang, denganintensitas yang semakin berat! Mengapa makin berat? karena ketika sebuah tugas ditunda, maka secara mental pikiran menganggapnyasebagai hal yang seharusnya telah dilakukan di masa lalu, sehinggatidak ada motivasi yang muncul saat tugas tersebut kembali tiba waktunya untuk dikerjakan.Buruknya lagi, kebiasaan menunda juga dapat berkembang ke titik ekstrimyaitu menunda kesuksesan, dengan dalih bahwa kesuksesan di masa depantidak akan pergi kemana-mana walau tidak diupayakan sekarang juga!Jadi apa yang perlu dilakukan untuk menghindari kebiasaan menunda???
Silakan simak beberapa langkah di bawah ini:
1. Tentukan prioritas.
Segala sesuatu memiliki prioritasnya masing-masing,ada saat dimana pekerjaan kuliah lebih penting dari waktu untuk diluangkan bersama keluarga, namun ada kalanya berlaku sebaliknya.Ketika kita sakit, prioritas tentu mengusahakan kesembuhan terlebih dahulusebelum menyelesaikan tugas/pekerjaan. Bagaimana cara agar prioritas dapatdibuat secara feasible? Jawabannya mudah, buatlah daftar skala prioritas dan juga hal-hal pendukung yang diperlukan untuk menyelesaikan sebuah tugas.Tambahkan juga rentang waktu yang masuk akal dan tidak membebani.
2. Upayakan sebuah kondisi mental, fisik dan lingkungan yang mendukung penyelesaian sebuah tugas.
Misalkan, usahakan kebersihan meja kerja,siapkan peralatan dan perlengkapan yang diperlukan secara lengkap untukmenyelesaikan sebuah tugas, persiapkan kebugaran fisik, cuci muka bila terasa penat atau mandi dengan air dingin, dampak langsung dari kondisi fisik yang bugar akan sangat mempengaruhi motivasi, sama halnya dengan tersedianya berbagai peralatan yang dibutuhkan untuk menyelesaikan tugas,bayangkan seorang pelukis berdiri di depan kanvas putih dan stand kayu, tersedia 12 jenis kuas lukis berkualitas berbagai ukuran, 3 set cat minyakdengan total 36 warna, plus secangkir kopi panas di samping meja dengan alunan lagu favorit sebagai sumber inspirasi. Rasanya sukar untuk pelukis tersebut untuk tidak mulai berkarya, dengan begitu lengkapnya persiapanyang ia perlukan untuk mengerjakan sebuah karya.
3. Lakukan 1 hal yang termudah!
Banyak pakar mengatakan bahwa seseorangharus melakukan yang terberat lebih dulu, namun kami menyarankan untukmelakukan 1 hal yang termudah, karena pikiran manusia dapat mengenali sebuah pencapaian atau tuntasnya sebuah hal walaupun hal itu sangat sepele, dan dari 1 pencapaian kecil, pikiran manusia akan termotivasiuntuk melakukan 1 hal selanjutnya dengan porsi lebih berat, dan seterusnya.(human's mind recognizes achievement, even the small one)
4. just let it flow
Kerjakan terus dengan ritme kita. Masalah yang terjadi biasanya adalah kita tidak bisa berhenti! namun ini adalah sebuah indikator yang menguntungkan bukan?
5. Setelah sebuah tugas terselesaikan, silakan beralih ke tugas berikutnya,bahkan mulailah tugas yang harusnya diselesaikan minggu depan! ^^
Doa Penjual Tempe
Di Karangayu, sebuah desa di Kendal, Jawa Tengah, hiduplah seorang ibu penjual tempe. Tak ada pekerjaan lain yang dapat dia lalukan sebagai penyambung hidup. Meski demikian, nyaris tak pernah lahir keluhan dari bibirnya. Ia jalani hidup dengan riang.”Jika tempe ini yang nanti mengantarku ke surga, kenapa aku harus menyesalinya…” demikian dia selalu memaknai hidupnya.Suatu pagi, setelah salat subuh, dia pun berkemas. Mengambil keranjang bambu tempat tempe, dia berjalan ke dapur. Diambilnya tempe-tempe yang dia letakkan di atas meja panjang. Tapi, deg! dadanya gemuruh. Tempe yang akan dia jual, ternyata belum jadi. Masih berupa kacang, sebagian berderai, belum disatukan ikatan-ikatan putih kapas dari peragian.Tempe itu masih harus menunggu satu hari lagi untuk jadi. Tubuhnya lemas. Dia bayangkan, hari ini pasti tidak akan mendapatkan uang untuk makan dan modal membeli kedelai yang akan dia olah kembali menjadi tempe.Di tengah putus asa, terbersit harapan di dadanya. Dia tahu, jika meminta kepada Allah, pasti tak akan ada yang mustahil. Maka, di tengadahkan kepala, dia angkat tangan, dia baca doa. “Ya Allah, Engkau tahu kesulitanku. Aku tahu Engkau pasti menyayangi hamba-Mu yang hina ini. Bantulah aku ya Allah, jadikanlah kedelai ini menjadi tempe. Hanya kepada-Mu kuserahkan nasibku…”Dalam hati, dia yakin, Allah akan mengabulkan doanya. Dengan tenang, dia tekan dan mampatkan daun pembungkus tempe. Dia rasakan hangat yang menjalari daun itu. Proses peragian memang masih berlangsung. Dadanya gemuruh. Dan pelan, dia buka daun pembungkus tempe.Dan… dia kecewa. Tempe itu masih belum juga berubah. Kacangnya belum semua menyatu oleh kapas-kapas ragi putih. Tapi, dengan memaksa senyum, dia berdiri. Dia yakin, Allah pasti sedang “memproses” doanya. Dan tempe itu pasti akan jadi. Dia yakin, Allah tidak akan menyengsarakan hambanya yang setia beribadah seperti dia. Sambil meletakkan semua tempe setengah jadi itu ke dalam keranjang, dia berdoa lagi. Ya Allah, aku tahu tak pernah ada yang mustahil bagi-Mu. Engkau maha tahu, bahwa tak ada yang bisa aku lakukan selain berjualan tempe. Karena itu ya Allah, jadikanlah. Bantulah aku, kabulkan doaku…Sebelum mengunci pintu dan berjalan menuju pasar, dia buka lagi daun pembungkus tempe. Pasti telah jadi sekarang, batinnya. Dengan berdebar, dia intip dari daun itu, dan… belum jadi. Kacang itu belum sepenuhnya memutih. Tak ada perubahan apa pun atas ragian kacang tersebut. Keajaiban Tuhan akan datang… pasti, yakinnya.Dia pun berjalan ke pasar. Di sepanjang perjalanan itu, dia yakin, “tangan” Tuhan tengah bekerja untuk mematangkan proses peragian atas tempe-tempenya. Berkali-kali dia dia memanjatkan doa… berkali-kali dia yakinkan diri, Allah pasti mengabulkan doanya.Sampai di pasar, di tempat dia biasa berjualan, dia letakkan keranjang-keranjang itu. “Pasti sekarang telah jadi tempe!” batinnya.Dengan berdebar, dia buka daun pembungkus tempe itu, pelan-pelan. Dan… dia terlonjak. Tempe itu masih tak ada perubahan. Masih sama seperti ketika pertama kali dia buka di dapur tadi. Kecewa, air mata menitik di keriput pipinya. Kenapa doaku tidak dikabulkan? Kenapa tempe ini tidak jadi? Kenapa Tuhan begitu tidak adil? Apakah Dia ingin aku menderita? Apa salahku? Demikian batinnya berkecamuk.Dengan lemas, dia gelar tempe-tempe setengah jadi itu di atas plastik yang telah dia sediakan. Tangannya lemas, tak ada keyakinan akan ada yang mau membeli tempenya itu.Dan dia tiba-tiba merasa lapar…merasa sendirian. Tuhan telah meninggalkan aku,batinnya. Airmatanya kian menitik. Terbayang esok dia tak dapat berjualan… esok dia pun tak akan dapat makan.Dilihatnya kesibukan pasar, orang yang lalu lalang, dan “teman-temannya” sesama penjual tempe di sisi kanan dagangannya yang mulai berkemas. Dianggukinya mereka yang pamit, karena tempenya telah laku. Kesedihannya mulai memuncak.Diingatnya, tak pernah dia mengalami kejadian ini. Tak pernah tempenya tak jadi. Tangisnya kian keras. Dia merasa cobaan itu terasa berat…Tiba-tiba sebuah tepukan menyinggahi pundaknya. Dia memalingkan wajah, seorang perempuan cantik, paro baya, tengah tersenyum, memandangnya. Maaf Ibu, apa ibu punya tempe yang setengah jadi? Capek saya sejak pagi mencari-cari di pasar ini, tak ada yang menjualnya. Ibu punya? Penjual tempe itu bengong. Terkesima. Tiba-tiba wajahnya pucat.Tanpa menjawab pertanyaan si ibu cantik tadi, dia cepat menengadahkan tangan. Ya Allah, saat ini aku tidak ingin tempe itu jadi. Jangan engkau kabulkan doaku yang tadi. Biarkan sajalah tempe itu seperti tadi, jangan jadikan tempe…Lalu segera dia mengambil tempenya. Tapi, setengah ragu, dia letakkan lagi. jangan-jangan, sekarang sudah jadi tempe…Bagaimana Bu? Apa ibu menjual tempe setengah jadi? tanya perempuan itu lagi. Kepanikan melandanya lagi. “Duh Gusti… bagaimana ini? Tolonglah ya Allah, jangan jadikan tempe ya?” ucapnya berkali-kali. Dan dengan gemetar, dia buka pelan-pelan daun pembungkus tempe itu. Dan apa yang dia lihat, pembaca?? Di balik daun yang hangat itu, dia lihat tempe yang masih sama. Belum jadi!“Alhamdulillah!” pekiknya, tanpa sadar. Segera dia angsurkan tempe itu kepada si pembeli. Sembari membungkus, dia pun bertanya kepada si ibu cantik itu. “Kok Ibu aneh ya, mencari tempe kok yang belum jadi?”Ooh, bukan begitu, Bu. Anak saya yang kuliah di Australia ingin sekali makan tempe, asli buatan sini. Nah, agar bisa sampai sana belum busuk, saya pun mencari tempe yang belum jadi. Jadi saat saya bawa besok, sampai sana masih layak dimakan. Oh ya, jadi semuanya berapa, Bu?Kisah yang biasa bukan, dalam kehidupan sehari-hari, kita acap berdoa dan “memaksakan” Allah memberikan apa yang menurut kita paling cocok untuk kita. Dan jika doa kita tidak dikabulkan, kita merasa diabaikan, merasa kecewa. Padahal Allah paling tahu apa yang paling cocok untuk kita. Bahwa semua rencananya adalah sangat sempurna.Kisah sederhana yang menarik, karena seringkali kita pun mengalami hal yg serupa. Di saat kita tidak memahami ada hikmah di balik semua skenario yg Allah SWT takdirkan.
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu;Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui” (QS. Al Baqarah 216)
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu;Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui” (QS. Al Baqarah 216)
Langganan:
Postingan (Atom)